Effect Salju

Bintang (cursor)

Paijo Speed (Cursor)

Seiring Kekuatan Besar Datang Tanggung Jawab Besar

Seiring Kekuatan Besar Datang Tanggung Jawab Besar

16 Maret 2018

Dia. Bukan Kamu

Dia. Bukan Kamu.
Kamu akan selalu menjadi yang kukagumi. Karena bagaimanapun juga, kamu adalah yang paling sesuai dengan apa yang aku impi. Kamu juga akan selalu ada di ingatanku, karena bagaimanapun juga, kamu adalah orang yang pernah paling bisa memunculkan tawaku. Jadi, kalau dulu aku bilang aku mencintaimu, itu bukan main-main. Karena memang kenyataannya bisa dibilang aku memperhatikanmu terlalu sering. Dan di momen itu, dulu aku berharap, kamu bisa menangkap sinyal yang aku tebar. Tapi entah kamu yang tidak peka dengan semua perhatian yang kulakukan, atau kamu memang tidak menjadikanku pilihan untuk kamu kejar. Karena pada akhirnya, kalau kamu ingat, justru dia yang selalu mendengar cerita-ceritaku ketika kamu sibuk bermain dengan teman-temanmu. Dia yang selalu meluangkan waktunya untuk menemaniku. Dia yang menyediakan bahunya untuk menyembunyikan airmataku ketika menangisimu. Dia. Bukan kamu. Dan setelah aku nyaman bersamanya, tiba-tiba kamu datang lagi. Mengajakku pergi untuk mencintaimu, menemanimu. Ke mana kamu pada saat itu? Pada saat aku memujamu? Apa sekarang kamu sudah tidak punya teman-temanmu? Jadi, kalau boleh minta tolong, kumohon jangan datang lagi. Kamu tidak bisa tiba-tiba datang dan meminta untuk dicintai padahal sebelumnya kamu benar-benar bersikap tidak peduli. Aku tidak mau. Karena sudah ada dia di sini. Dia yang selalu menyadarkanku untuk apa menunggu orang yang tidak pernah peduli. Dia yang memberi perhatian kalau kesabaran itu memang seharusnya tidak memiliki batas, tapi jangan juga kemudian menyiakan waktu hanya untuk menunggu orang yang tidak peduli kalau dia ditunggu. Dia juga yang membuatku mengerti betapa menyenangkannya diperhatikan, seperti ketika dulu kamu aku perhatikan. Jadi, dengar. Kamu masih kukagumi. Selalu. Masih juga yang kuanggap paling lucu. Selalu. Tetapi ada kalanya, kita harus berhenti pada sesuatu yang tidak sesuai untuk kita miliki. Yang diimpikan belum tentu sesuai dengan yang dibutuhkan. Dan kalaupun kamu memaksa datang lagi, aku harus mengatakan bahwa bagaimanapun juga, dari semua pilihan yang ada di dunia ini, pada akhirnya kita harus sampai pada keputusan, 'Aku pilih yang ini'. Dan pilihanku jatuh pada dia. Dia. Bukan kamu.

28 Februari 2018

SURAT BUAT CALON ISTRI KU

Hai sayang...
Iya kamu, siapa lagi kalau bukan kamu.
Kamu Ika, dan bukan yang lain, hanya kamu.
Kamu lah sayangku, kamu lah inspirasi ku, motivasi hidup ku.
Wanita yang sangat  aku banggakan, dan Ibu dari anak-anak ku kelak.

Hai sayang...
Tetaplah tegar sayang. Jangan takut, jangan menangis.
Karna aku akan selalu mendampingimu. Karna aku akan selalu ada bersamamu.

Hai sayang...
Percayalah...
Apapun yang ada padaku adalah milikmu.
Apapun masalah yang kau hadapi adalah masalahku juga, karna
itulah keharusan, dan kewajibanku menjaga dan menutupi segalanya tentangmu,
tentang kita juga.
Karna sekarang aku dan kamu telah menjadi kita.

Hai sayang...
Terbukalah untukku, agar aku senantiasa bisa merasakan apa yang kamu rasakan.
Ijinkan aku untuk masuk kedalam duniamu, mulai saat ini hingga akhir nanti.
Karna bagiku senyum mu adalah kebahagiaanku. Dan tangismu adalah kesedihanku.

Hai sayang...
Berhentilah berlari, dan tunggulah aku hingga aku dapat mencapai jejakmu.
Karna saat ini aku belum bisa meraihmu, belum bisa mendapatkanmu sepenuhnya.
Berhentilah berlari, agar aku bisa berdiri disampingmu.
Berhentilah berlari, agar aku bisa berlajan seirama disampingmu.

Hai sayang...
Ijinkan aku meraih tanganmu, agar aku bisa merasakan perjuanganmu.
Ijinkan aku meraih pundakmu, agar aku bisa menjadi sandaran kesdihanmu.
Ijinkan aku memelukmu, agar aku bisa merasakan harapanmu.
Ijinkan aku mencium keningmu, agar aku bisa merasakan hangatnya kelembutan cintamu.

Hai sayang...
Sekarang kau tak perlu takut lagi.
Sekarang tak lagi ada beban yang mendalam disetiap hari-harimu.
Sekarang tak lagi ada kesedihan dan tangis lagi.
Sekarang yang ada hanya tetes air mata kebahagiaan, senyum dan tawa kehangatan.

Hai sayang...
Mari kita raih bersama harapan dan cita kita.
Mari kita ciptakan rasa peduli kita bersama.
Mari kita tunjukkan pada semua bahwa kita adalah sama.

Dan pada akhirnya kaulah istriku satu-satunya pilihanku,
kaulah istriku yang senantiasa aku banggakan,
kalulah istriku yang aku pertahankan dan aku perjuangkan.

Aku sayang kamu wahai calon istriku (Ika).

14 Februari 2018

Entahlah

Berkata, “Sudahlah.”
27 June 2015
Halo,
Apa kabarmu pagi ini? Kuharap kau tak bangun kesiangan dan terlambat berangkat ke kantor lagi. Aku percaya kau menyadari, kebiasaanmu yang satu itu tak layak dipertahankan di umur yang sedewasa ini. Kau sudah sarjana, sudah melewati beberapa tahap krusial kehidupan. Harusnya kau mengerti bahwa hidup sudah semakin konsekuensial. Sifat buruk yang kau miliki tak hanya punya dampak pada dirimu sendiri, namun juga orang lain yang dekat di sekitarmu. Termasuk — atau terutama — aku.
Aku menyapamu sepagi ini karena perlu menyampaikan sesuatu. Begini: aku akan meninggalkanmu.
Jangan terkejut. Jangan pula berkata kau tak pernah menduganya. Beberapa hari terakhir ini kau selalu mendesakku untuk bercerita mengapa sikapku mendadak berbeda, mendadak lebih diam dari biasanya.
Tenanglah dan jangan terburu-buru. Masih ada banyak hal yang perlu kusampaikan padamu.
Menerimamu dalam hidupku sebagai pasangan adalah kesalahan. Aku jatuh terlalu dalam, menganggapmu suatu kemutlakan
Kalau aku diizinkan berbicara sedikit cheesy seperti tokoh di film remaja, aku tahu benar apa itu cinta. Bagaimana tidak? Aku pernah merasakannya. Dan tidaklah berlebihan untuk mengakui, tak ada yang sanggup meruntuhkan “dindingku” sebelum kau. Kau tak segan memberi perhatian. Hadiah kecil pun tanpa kuminta kau berikan. Kau tipe orang yang tak main-main, katamu. Aku yang naif pun terpikat saja di waktu itu.
Realita jatuh ke pelipisku dengan tiba-tiba. Setelah kita menyepakati rasa, kau perlahan berubah jadi semakin seenaknya. Makin bertumbuh perasaanku, makin sadar dirimu — dan makin hebat kau memanfaatkannya. “Kalau kamu sayang, kamu harus mau berkorban buatku,” adalah kalimat yang begitu sering terlontar darimu. “Iya, aku minta maaf!” Katamu kesal jika setiap aku menjelaskan kau telah berbuat kesalahan. Kalimatmu yang berikutnya bisa aku ramal: “Kalau kamu sayang, harusnya kamu mau memaafkan.”
Denganmu, cinta menjadi bersyarat. Ia harus didemonstrasikan dari waktu ke waktu dengan tindakan-tindakan dan pengorbanan hebat.
Awalnya aku menerima sikapmu dengan hati terbuka. Kuanggap tuntutan itu normal dalam hubungan cinta; sikap burukmu sebagai hal yang harus ditolerir dalam proses menerima pasangan “apa adanya”. Aku jatuh terlalu dalam, menganggapmu sebagai kemutlakan. Bahkan tumbuh insting dalam pikiranku untuk melindungimu. Melindungi dari apa? Kini mengingat insting itu membuatku tertawa. Justru akulah yang patut dilindungi. Dari dirimu sendiri.
Berkeras untuk tetap memberimu hati adalah pengkhianatan pada diriku sendiri. Maaf, di atasmu ada aku yang lebih kusayangi
Ini bukan kali pertama aku berkata bahwa hubungan kita sebaiknya diakhiri saja. Namun dulu kau selalu meminta, tak bisakah kau mendapat kesempatan kedua? Dirimu tampak menimbun sesal. Aku pun takluk, niatku untuk meninggalkanmu tak pernah cukup tegar.
Namun perempuan yang baik selalu tahu kapan sebaiknya dia pergi. Kini aku mengerti, berkeras untuk memberimu hati adalah kejahatan pada diriku sendiri. Tak hanya telah memberimu kesempatan kedua. Aku mengorbankan waktu untuk mempercayakanmu kans yang ketiga dan nomor-nomor setelahnya. Setiap kali aku berkata diriku sudah terlalu lelah, kau akan berjanji untuk berubah.
Aku sempat percaya, diriku bisa mengubahmu dengan perangkat sesederhana cinta. Betapa naifnya.
Aku sempat percaya kau akan menepati ikrar. Aku pun sudah memberimu waktu yang tidak sebentar. Dalam bayanganku, kau akan berubah pelan-pelan. Menjadi seperhatian dulu, menghargai perasaan dan mimpi-mimpiku. Tak menjatuhkan semangatku dengan kata-kata seperti “Mana mungkin kamu bisa?” Dalam bayanganku, kau adalah pria baik yang perlu dituntun untuk kembali lagi ke fitrahnya. Dan dalam bayanganku, yang bisa menuntunmu hanyalah diriku.
Kau tak pernah mau belajar mendewasa. Aku tak punya pilihan: akulah yang harus jadi dewasa di antara kita. Dan itu artinya berhenti mengharapkan sesuatu yang akan sulit dicapai realita. Berhenti berharap bahwa dirimu akan lebih bijak dalam berkata-kata, lebih menghargai dan menghormati usaha pasangannya. Kukira diriku akan mampu mengubahmu jadi seperti dulu. Sekarang aku sadar,
Aku meninggalkanmu sekarang, selagi hati masih punya ruang untuk memaafkan. Semoga kau menemukan penggantiku yang bisa jauh lebih bersabar
Aku tak bilang ini mudah. Namun saat segala hal sudah coba untuk kulakukan, tiba waktunya untuk menyerah. Untuk berkata “Ah, sudahlah.” Aku tak mau menyimpan dendam, dan aku ingin meninggalkanmu selagi hatiku masih punya ruang untuk memaafkan.
Semoga kau diberkahi dengan masa depan yang lebih baik lagi. Dengan pasangan yang sanggup lebih bersabar, yang menerimamu sebagaimana dirimu sekarang. Karena orang itu jelas bukan aku.
Tenanglah, Sayang.